Trending
Home » Blog – Cara Menjadi Eksportir » Rp 300 T Melayang karena Indonesia Masih Ekspor Bahan Mentah
News Ekspor

Rp 300 T Melayang karena Indonesia Masih Ekspor Bahan Mentah

Tim GOEXPORT.ORG 0 Komentar Dibaca 29 minutes ago 386 Article Views 28 March 2026
Rp 300 T Melayang karena Indonesia Masih Ekspor Bahan Mentah
Share

goexport.org – Masalah ekspor bahan mentah di Indonesia ternyata bukan sekadar isu lama yang sering dibahas tapi dampaknya benar-benar besar. Bahkan, menurut Danantara, potensi uang yang “hilang” dari praktik ini bisa tembus hingga Rp 300 triliun. Angka yang nggak main-main, kan?

Direktur Badan Pengelola Investasi Danantara, Lucky Lukman Nurrahmat, secara terbuka mengungkap hal ini dalam sebuah acara di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, pada 27 Maret 2026.

Menurut Lucky, Indonesia sebenarnya seperti “membiarkan” potensi pendapatan besar itu menguap begitu saja.

“Kita ini pada dasarnya membiarkan potensi pendapatan sekitar Rp 300 triliun terbuang,” jelasnya.

Masalah Utama: Hilirisasi Masih Setengah Jalan

Kalau dibedah lebih dalam, masalahnya ada di hilirisasi yang belum berjalan maksimal. Saat ini, masih ada sekitar 20% produk ekspor Indonesia yang dijual dalam bentuk bahan mentah.

Artinya apa?
Indonesia hanya jadi “penjual bahan baku”, sementara negara lain yang menikmati keuntungan besar dari proses pengolahan.

Padahal, kalau bahan mentah itu diolah dulu di dalam negeri—jadi produk jadi atau setengah jadi nilai jualnya bisa naik berkali-kali lipat.

Dari Masalah Jadi Peluang: Ini 4 Potensi Besar yang Bisa Digarap

Menariknya, Lucky nggak cuma bicara soal kerugian. Ia juga melihat ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan Indonesia, khususnya di sektor peternakan.

  1. Target Swasembada Pangan 2029

Indonesia masih bergantung pada impor pangan dengan nilai sekitar Rp 10 miliar per tahun.

Meski terlihat seperti masalah, kondisi ini justru bisa jadi peluang besar untuk memperkuat produksi dalam negeri.

Kalau bisa mandiri, bukan cuma hemat devisa—tapi juga membuka lapangan kerja baru.

  1. Permintaan Dalam Negeri Terus Naik

Kebutuhan pangan di Indonesia diprediksi tumbuh sekitar 5–7% setiap tahun.

Dengan pertumbuhan ini, permintaan protein—terutama dari sektor peternakan—juga ikut meningkat. Ini jadi sinyal kuat kalau pasar dalam negeri sebenarnya sangat besar dan belum tergarap maksimal.

  1. Peluang Ekspor Regional ASEAN

Pasar pangan di Asia Tenggara diprediksi bakal mencapai nilai fantastis, sekitar US$ 800 miliar pada 2030.

Namun untuk bisa ikut “main” di pasar ini, Indonesia harus siap dari sisi teknologi dan kapasitas produksi. Kalau tidak, kita lagi-lagi hanya jadi penonton.

  1. Hilirisasi yang Belum Optimal

Ini dia inti masalahnya: sebagian besar ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah.

Selama pola ini belum berubah, potensi keuntungan besar akan terus dinikmati negara lain. Indonesia cuma kebagian “remah-remahnya”.

Sektor Unggas: Potensi Besar yang Belum Maksimal

Dalam kesempatan yang sama, Lucky juga menyoroti sektor unggas yang sebenarnya punya potensi luar biasa.

Saat ini, Indonesia berada di posisi kelima dunia sebagai produsen ayam broiler, dengan produksi sekitar 3,5 juta ton per tahun.

Namun ironisnya, kontribusi ekspor masih sangat kecil—hanya sekitar 2%.

Bandingkan dengan Thailand yang sudah mencapai 40% ekspor. Jauh banget, kan?

Padahal, pasar global untuk produk unggas diperkirakan mencapai US$ 9 miliar dengan pertumbuhan sekitar 8% per tahun.

Strategi Danantara: Bangun dari Hulu ke Hilir, Bukan Sekadar Ternak Biasa

Untuk ngejar potensi besar yang selama ini “bocor”, Danantara nggak setengah-setengah. Mereka mulai membangun sistem peternakan terpadu yang fokus pada penguatan dari hulu sampai hilir.

Jadi bukan cuma produksi ayam, tapi benar-benar bikin ekosistem lengkap yang saling terhubung.

Apa Saja yang Dibangun?

Berikut gambaran rantai pasok yang sedang dikembangkan:

  • Pembibitan unggas berkualitas (Grandparent Stock / GPS)
    Ini adalah level tertinggi dalam rantai pembibitan. Dari sinilah kualitas genetik ayam ditentukan. Kalau bagian ini kuat, hasil akhirnya juga pasti lebih unggul.
  • Produksi anak ayam (Day Old Chicken / DOC)
    DOC adalah “starter pack” dalam industri unggas. Dengan kontrol kualitas dari awal, produktivitas peternak bisa meningkat signifikan.
  • Peternakan modern dan terintegrasi
    Bukan lagi model tradisional, tapi sudah mengarah ke sistem berbasis teknologi—mulai dari pakan, suhu kandang, hingga manajemen kesehatan ternak.
  • Pabrik pakan (feed mill)
    Pakan adalah komponen biaya terbesar di peternakan. Dengan produksi sendiri, biaya bisa ditekan dan kualitas tetap terjaga.
  • Rumah potong & pengolahan (processing)
    Di sinilah nilai tambah mulai terasa. Ayam tidak dijual mentah saja, tapi bisa diolah jadi produk siap konsumsi.
  • Distribusi & logistik
    Produk yang sudah diolah akan disalurkan ke pasar domestik maupun ekspor dengan sistem distribusi yang lebih efisien.

Kenapa Model Ini Penting?

Pendekatan hulu ke hilir ini punya banyak keunggulan, di antaranya:

  • Mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan bibit
  • Meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri
  • Menstabilkan harga di pasar karena rantai pasok lebih terkontrol
  • Meningkatkan daya saing ekspor Indonesia
  • Menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor

 Sudah Sampai Mana Proyeknya?

Rp 300 T Melayang karena Indonesia Masih Ekspor Bahan Mentah

Nggak cuma wacana, proyek ini sudah mulai jalan.

Beberapa langkah nyata yang sudah dilakukan:

  • Melakukan groundbreaking proyek peternakan terpadu di kuartal pertama tahun ini
  • Menyiapkan lahan dan infrastruktur pendukung
  • Mulai membangun kemitraan dengan peternak lokal
  • Menyiapkan integrasi dengan program nasional seperti pangan dan gizi 

Dampak ke Peternak Lokal

Rp 300 T Melayang karena Indonesia Masih Ekspor Bahan Mentah

Yang menarik, strategi ini juga nggak melupakan peternak kecil.

Danantara ikut mendorong:

  • Akses bibit unggul (GPS & DOC) untuk peternak
  • Pelatihan teknologi peternakan modern
  • Pendampingan manajemen usaha
  • Akses pembiayaan seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat)

Jadi bukan cuma perusahaan besar yang untung, tapi juga peternak kecil ikut naik kelas.

Efek Program Makan Bergizi Gratis

Program makan bergizi gratis (MBG) juga ikut jadi pendorong besar sektor ini.

Bayangkan saja, ke depannya akan ada sekitar 32 ribu dapur yang beroperasi pada 2030. Ini otomatis meningkatkan kebutuhan bahan pangan, terutama protein seperti ayam dan telur.

Artinya, permintaan akan terus naik—dan ini peluang besar bagi industri dalam negeri.

Bukan Sekadar Modal, Tapi Bangun Ekosistem

Yang menarik, Danantara nggak cuma fokus pada investasi besar saja.

Mereka juga mendorong pemberdayaan peternak kecil, mulai dari:

  • Peningkatan kapasitas produksi
  • Akses ke teknologi
  • Hingga dukungan pembiayaan seperti kredit usaha rakyat

Menurut Lucky, pendekatan ini penting agar industri bisa tumbuh secara merata.

“Kami tidak hanya mengucurkan modal, tapi juga membangun kapasitas dan kemampuan teknologi di tingkat nasional.”

Mau Tembus Pasar Global? Mulai dari Sini!

Kalau kamu pelaku usaha, UMKM, atau bahkan baru mau mulai bisnis ekspor, sekarang adalah waktu yang tepat untuk upgrade skill dan mindset kamu.

Jangan jalan sendiri belajar dari yang sudah berpengalaman itu jauh lebih cepat dan minim risiko.

👉 Di Go Export, kamu bisa menemukan berbagai program yang siap bantu kamu naik level:

  • Pelatihan ekspor dari basic sampai advanced
  • Workshop praktis yang langsung bisa diterapkan
  • Seminar bisnis internasional dengan insight terbaru
  • Mentoring langsung dari praktisi ekspor berpengalaman

Nggak cuma teori, tapi juga strategi nyata biar produk kamu bisa bersaing di pasar global.

Jangan Tunggu Lagi!

Potensi pasar ekspor itu besar banget dan Indonesia lagi butuh lebih banyak pelaku usaha yang berani go global.

Yuk mulai langkahmu sekarang bareng Go Export, dan jadi bagian dari perubahan besar ekonomi Indonesia!

Jangan tunggu peluang lewat begitu saja!

Yuk, mulai langkah kamu di dunia ekspor sekarang juga bersama GOEXPORT.ORG.

Daftar Sekarang
Share.

0 KOMENTAR

Belum ada komentar. Jadi yang pertama berkomentar di artikel ini!

Berikan Komentar

Email tidak akan ditampilkan ke publik.

Komentar akan tampil setelah disetujui oleh admin.