goexport.org – Pasar kakao global sedang mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan terhadap produk berbahan kakao mulai dari cokelat, bubuk kakao, hingga cocoa butter terus meningkat, terutama di pasar internasional seperti Amerika Serikat. Dalam situasi ini, Indonesia dan Malaysia menjadi dua negara Asia Tenggara yang sering bersaing ketat dalam perdagangan kakao ke pasar global, termasuk yang sering disebut sebagai pasar Kakao AS.
Meski sama-sama berasal dari kawasan Asia Tenggara, kedua negara ini punya strategi, kekuatan, dan tantangan yang berbeda dalam memperebutkan pangsa pasar kakao dunia.
Industri kakao Indonesia mendapatkan kabar yang cukup menggembirakan dari kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Melalui kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART), sejumlah produk unggulan Indonesia mendapatkan akses yang lebih luas ke pasar Amerika.
Salah satu komoditas yang ikut mendapatkan keuntungan dari kesepakatan ini adalah produk kakao. Dalam perjanjian tersebut, kakao Indonesia masuk dalam 1.819 daftar produk yang mendapatkan fasilitas tarif bea masuk 0% ke Amerika Serikat.
Kebijakan ini tentu menjadi peluang besar bagi industri kakao nasional. Dengan tarif impor yang dihapuskan, produk kakao Indonesia bisa lebih kompetitif dan berpeluang memperluas pangsa pasar di Negeri Paman Sam.
Bagi pelaku industri, kabar ini bisa dibilang seperti “angin segar” yang membuka pintu lebih lebar untuk meningkatkan ekspor kakao ke pasar internasional.
Dukungan Pemerintah untuk Petani Kakao
Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia, Jason Sutjiawan, menilai upaya pemerintah dalam memperjuangkan tarif nol persen ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap sektor kakao nasional.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada aktivitas ekspor, tetapi juga berpengaruh langsung pada kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari komoditas kakao.
Saat ini, industri kakao di Indonesia melibatkan sekitar 1,2 juta petani dan pelaku usaha di berbagai daerah. Mereka menjadi bagian penting dalam rantai pasok kakao, mulai dari produksi hingga distribusi.
Beberapa pihak yang terdampak langsung dari kebijakan ini antara lain:
- Petani kakao di berbagai daerah penghasil kakao Indonesia
- Pelaku usaha pengolahan kakao
- Industri makanan dan minuman berbasis kakao
- Eksportir produk kakao olahan
Dengan akses pasar yang lebih terbuka, diharapkan pendapatan para petani dan pelaku usaha kakao juga bisa ikut meningkat.
Amerika Serikat Jadi Pasar Penting Kakao Indonesia

Selama ini, Amerika Serikat memang menjadi salah satu pasar ekspor yang cukup penting bagi produk kakao Indonesia. Permintaan produk kakao di negara tersebut tergolong tinggi karena digunakan sebagai bahan baku berbagai industri.
Salah satu produk yang cukup banyak diekspor adalah lemak kakao atau cocoa butter. Produk ini memiliki nilai tambah yang cukup tinggi dan banyak digunakan dalam industri makanan hingga kosmetik.
Pada tahun 2025, Indonesia tercatat berhasil mengekspor sekitar 35 ribu ton lemak kakao ke Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan bahwa produk kakao olahan Indonesia masih memiliki permintaan yang kuat di pasar global.
Beberapa produk kakao Indonesia yang banyak diminati di pasar ekspor antara lain:
- Lemak kakao (cocoa butter)
- Bubuk kakao
- Pasta kakao
- Cokelat olahan
Dengan adanya fasilitas tarif nol persen, peluang ekspor produk-produk ini tentu bisa semakin meningkat di masa depan.
Persaingan Ketat dengan Malaysia

Meski peluang pasar semakin besar, Indonesia tetap menghadapi persaingan yang cukup ketat di industri kakao global. Salah satu pesaing terdekat adalah Malaysia.
Negara tetangga tersebut dikenal memiliki fasilitas pengolahan kakao yang cukup maju. Industri kakao Malaysia mampu mengolah bahan baku kakao menjadi berbagai produk bernilai tambah untuk kebutuhan ekspor.
Beberapa keunggulan Malaysia dalam industri kakao antara lain:
- Memiliki teknologi pengolahan kakao yang modern
- Kapasitas industri pengolahan yang besar
- Jaringan ekspor yang kuat ke pasar global
Hal inilah yang membuat persaingan antara Indonesia dan Malaysia dalam memasok produk kakao olahan ke pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, menjadi semakin menarik.
Tantangan Industri Pengolahan Kakao Indonesia
Di tengah peluang ekspor yang semakin terbuka, industri kakao Indonesia juga masih menghadapi beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi industri kakao nasional antara lain:
- Produktivitas kebun kakao yang belum maksimal
- Kualitas biji kakao yang masih perlu ditingkatkan
- Kapasitas industri pengolahan yang belum merata
- Persaingan dari negara produsen kakao lainnya
Jika tantangan ini bisa diatasi, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi pemain yang lebih kuat di pasar kakao dunia.
Masa Depan Kakao Indonesia di Pasar Global
Kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui ART menjadi momentum penting bagi industri kakao nasional. Dengan tarif impor nol persen, produk kakao Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Namun di sisi lain, persaingan dengan negara lain seperti Malaysia juga menuntut industri kakao Indonesia untuk terus berbenah, terutama dalam meningkatkan kualitas produk dan memperkuat industri pengolahan.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai perkembangan dan tantangan industri kakao Indonesia, dialog lengkap antara Syarifah Rahma dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia Jason Sutjiawan dapat disimak dalam program Squawk Box CNBC Indonesia yang tayang pada Kamis, 12 Maret 2026.
Di sana dibahas lebih dalam mengenai strategi industri kakao Indonesia dalam menghadapi persaingan global, termasuk upaya memperkuat posisi di pasar Kakao AS.
Dengan adanya kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART), peluang industri kakao Indonesia untuk berkembang semakin terbuka lebar. Fasilitas tarif bea masuk 0% tentu menjadi momentum penting bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspor produk kakao ke Amerika Serikat.
Namun di balik peluang tersebut, tantangan tetap ada. Persaingan dengan negara lain seperti Malaysia yang memiliki industri pengolahan kakao yang kuat membuat pelaku usaha Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas produk, memperkuat industri hilir, serta memahami strategi ekspor yang tepat.
Jika peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin diperhitungkan sebagai salah satu pemain utama dalam industri kakao global, khususnya di pasar Amerika Serikat.
Ingin Mulai Ekspor Produk Anda? Saatnya Belajar Bersama Go Export!
Melihat peluang ekspor yang semakin terbuka, terutama untuk komoditas seperti kakao, kini saatnya pelaku usaha Indonesia mulai serius mengembangkan bisnisnya ke pasar internasional.
Sayangnya, banyak pelaku usaha yang masih bingung harus memulai dari mana. Mulai dari memahami regulasi ekspor, mencari buyer luar negeri, hingga strategi pemasaran global.
Di sinilah Go Export hadir untuk membantu Anda.
Melalui berbagai program pelatihan ekspor, workshop, dan seminar, Go Export memberikan panduan praktis bagi pelaku usaha yang ingin menembus pasar global.
Beberapa program yang bisa Anda ikuti di Go Export antara lain:
- Pelatihan ekspor untuk pemula hingga tingkat lanjutan
- Workshop strategi menembus pasar internasional
- Seminar peluang ekspor berbagai komoditas unggulan Indonesia
- Mentoring bisnis ekspor bersama praktisi berpengalaman
Program-program ini dirancang khusus agar pelaku usaha Indonesia bisa memahami proses ekspor dengan lebih mudah, praktis, dan siap bersaing di pasar global.
Jadi, kalau Anda ingin produk lokal Anda ikut bersaing di pasar dunia seperti produk kakao Indonesia yang kini semakin dilirik pasar Amerika, jangan lewatkan kesempatan untuk belajar langsung dari para ahlinya di Go Export.
👉 Daftar sekarang dan mulai perjalanan ekspor Anda bersama Go Export!




