goexport.org – Pernah dengar istilah Devisa Hasil Ekspor (DHE), tapi masih bingung cara ngitungnya? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak pelaku usaha yang baru masuk dunia ekspor masih suka bingung soal ini. Padahal, kalau kamu paham Cara Menghitung Devisa Hasil Ekspor, proses pencatatan keuangan bakal jauh lebih rapi dan gampang.
DHE sendiri adalah pemasukan valuta asing yang diterima negara atau pelaku usaha dari transaksi ekspor. Intinya, ini adalah uang hasil ekspor yang masuk ke rekeningmu dalam bentuk mata uang asing, entah USD, SGD, EUR, dan lain-lain.
Nah, biar nggak pusing, yuk kita bahas dengan bahasa santai dan contoh yang gampang dicerna.
Baca juga: Cara Jualan Ekspor Online dari Rumah, Cocok untuk UMKM!
Apa Itu Devisa Hasil Ekspor (DHE)?
Kalau kamu berkecimpung di dunia ekspor-impor, pasti nggak asing lagi sama istilah Devisa Hasil Ekspor atau DHE. Sederhananya, ini adalah uang hasil ekspor yang masuk dalam bentuk mata uang asing. Nilai ini penting banget, bukan cuma buat bisnis kamu, tapi juga buat negara. Kenapa? Karena DHE ikut bantu memperkuat cadangan devisa Indonesia.
Bahkan, menurut catatan Bank Indonesia, sampai 20 Maret 2023, penempatan Term Deposit valas dari DHE Sumber Daya Alam sudah tembus USD 1,95 miliar. Lumayan banget, kan?
Makanya, pelaku ekspor wajib paham DHE: apa itu, bagaimana aturannya, sampai cara ngitungnya. Bukan cuma buat urusan negara, tapi juga biar laporan keuangan bisnismu makin rapi.
Pengertian Devisa Hasil Ekspor Dalam Bahasa Simpel
Kalau dipecah, “devisa” itu artinya aset atau kewajiban finansial dalam mata uang asing, sedangkan “ekspor” adalah kegiatan ngirim barang ke luar negeri.
Jadi gampangnya:
Devisa Hasil Ekspor = Uang atau nilai dalam mata uang asing yang didapat dari menjual barang ke luar negeri.
Barang yang dimaksud bisa berupa hasil sumber daya alam (SDA) seperti batu bara, kopi, udang, dan lain-lain, atau barang non-SDA seperti produk pabrik, obat-obatan, sampai barang industri lainnya.
Aturan DHE yang Perlu Kamu Tahu
Mulai 1 Agustus 2023, ada aturan baru dari pemerintah soal DHE. Intinya seperti ini:
- Eksportir dari sektor SDA (perkebunan, pertambangan, kehutanan, perikanan) wajib menempatkan minimal 100% DHE ke rekening khusus di bank dalam negeri.
- Dana 100% itu harus disimpan minimal 3 bulan di sistem keuangan Indonesia, seperti LPEI atau bank devisa.
- Aturan ini berlaku untuk eksportir SDA dengan nilai ekspor ≥ USD 250.000.
- DHE harus ditempatkan paling lambat akhir bulan ketiga setelah PPE (Pemberitahuan Pabean Ekspor).
- Kalau nggak dilakukan? Ada sanksi atau denda sesuai regulasi.
Aturannya memang ketat, tapi dibuat agar devisa negara tetap kuat.
Jenis-Jenis Devisa Hasil Ekspor
Dalam dunia ekspor, DHE atau Devisa Hasil Ekspor ternyata nggak cuma satu jenis. Biar kamu nggak bingung, DHE biasanya dibagi menjadi dua kategori besar. Masing-masing punya karakteristik dan contoh produk yang berbeda. Yuk kita bahas dengan bahasa simpel.
1. DHE SDA (Sumber Daya Alam)

Jenis DHE yang satu ini berasal dari kegiatan ekspor yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam. Artinya, barang yang diekspor berasal langsung dari hasil bumi Indonesia baik itu pertambangan, perkebunan, perikanan, maupun kehutanan.
Contoh yang paling familiar adalah ekspor kelapa sawit, kakao, kopi, udang, rumput laut, batu bara, emas, nikel, dan berbagai komoditas alam lainnya. Produk SDA ini memang jadi andalan Indonesia karena permintaannya tinggi di pasar global. Nggak heran jenis DHE ini sering jadi penyumbang devisa terbesar untuk negara.
2. DHE Non-SDA (Non Sumber Daya Alam)

Kalau yang ini berasal dari ekspor barang yang bukan dari hasil alam secara langsung, melainkan hasil industri atau pabrik. Jadi produk tersebut sudah melalui proses pengolahan sebelum dijual ke luar negeri.
Contohnya bisa berupa obat-obatan, kosmetik, pakaian atau tekstil, elektronik, furnitur, produk makanan olahan, hingga barang manufaktur lainnya. Jenis DHE Non-SDA biasanya stabil karena mengikuti perkembangan industri dan teknologi.
Baca juga: Cara Mengurus Izin Ekspor untuk Pemula, Mudah & Anti Ribet!
Cara Menghitung Devisa Hasil Ekspor
Cara ngitungnya sebenarnya simpel banget. Cukup tahu:
- Total nilai ekspor kamu
- Persentase DHE yang berlaku (saat ini 100%)
Rumusnya:
DHE = Total Nilai Ekspor × 100%
Kalau mau hitung untuk 3 bulan, tinggal dijumlahkan semua hasil DHE per bulan.
Contoh Perhitungan DHE
Misal ada pemasukan DHE dari Mei–Agustus 2023 seperti ini:
- 1 Mei: USD 600.000
- 2 Mei: USD 700.000
- 3 Juni: USD 400.000
- 4 Juni: USD 300.000
- 5 Juni: USD 700.000
- Juli: Tidak ada pemasukan
Sekarang kita hitung 100% dari masing-masing:
Mei
- 600.000 × 100% = 600.000
- 700.000 × 100% = 700.000
Juni
- 400.000 × 100% = 400.000
- 300.000 × 100% = 300.000
- 700.000 × 100% = 700.000
Juli
- Tidak ada pemasukan
Total 3 Bulan
600.000 + 700.000 + 400.000 + 300.000 + 700.000
= USD 2.700.000
Artinya, selama 3 bulan, eksportir wajib menempatkan DHE minimal USD 2.700.000 di rekening khusus.
Contoh Cara Menghitung Devisa Hasil Ekspor
Misal kamu mengekspor kopi ke buyer di Jepang dengan detail berikut:
- Harga per kg: USD 8
- Jumlah barang: 500 kg
- Kurs 1 USD ke rupiah hari itu: Rp 15.700
Mari kita hitung:
- Nilai ekspor dalam USD
USD 8 × 500 = USD 4.000 - Dikonversi ke rupiah
USD 4.000 × Rp 15.700 = Rp 62.800.000
Jadi, Devisa Hasil Ekspor yang kamu terima adalah Rp 62.800.000.
Mudah banget, kan?
Mengapa DHE Penting Buat Eksportir Pemula?
- Biar kamu tahu nilai ekspor sebenarnya dalam rupiah
- Membantu menentukan harga jual dan profit
- Memudahkan laporan keuangan dan perpajakan
- Jadi bukti transaksi ekspor yang valid
Tips Agar Perhitungan DHE Selalu Akurat
- Gunakan kurs resmi bank saat transaksi masuk
- Simpan invoice dan bukti pembayaran buyer
- Catat semua biaya penunjang ekspor (packing, logistik, freight)
- Gunakan spreadsheet atau software akuntansi biar nggak salah hitung
Baca juga: Cara Ekspor Sayuran ke Luar Negeri untuk Pemula Lengkap!
Mau Jago Ekspor dari Nol? Belajar Langsung di Go Export!
Memahami jenis-jenis Devisa Hasil Ekspor itu penting banget, apalagi kalau kamu serius mau terjun ke dunia ekspor. Dengan tahu perbedaannya, kamu bisa menentukan strategi bisnis yang lebih tepat mulai dari memilih produk, menghitung potensi cuan, sampai mengatur arus keuangan biar tetap stabil. Semakin paham dasarnya, semakin lancar perjalanan ekspormu ke depannya.
Kalau masih bingung atau ingin belajar lebih dalam, kamu bisa ikut Pelatihan, Workshop, atau Kelas Seminar di Go Export! Materinya lengkap, mudah dipahami, dan langsung bisa dipraktikkan, cocok buat pemula maupun UMKM yang mau naik kelas.
Ayo daftar sekarang dan mulai perjalanan ekspormu sekarang dan upgrade skill-mu bareng Go Export!





2 Komentar
Pingback: Panduan Cara Ekspor Belut Segar & Olahan ke Pasar Global
Pingback: Panduan Cara Ekspor Produk ke Luar Negeri Mulai dari Nol