goexport.org – Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran bukan hanya menjadi sorotan dunia, tetapi juga ikut memberikan efek domino terhadap perekonomian global. Indonesia, termasuk Jawa Timur, tak luput dari dampaknya. Perang AS–Iran Bayangi Ekspor nasional sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas sektor pangan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski secara geografis jauh, dampaknya bisa terasa hingga ke daerah, salah satunya Jawa Timur.
Situasi geopolitik yang tidak stabil seperti ini memang sering menimbulkan efek berantai pada perekonomian global. Mulai dari kenaikan harga energi, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga melonjaknya biaya logistik internasional. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin aktivitas perdagangan dan industri di Jawa Timur ikut terdampak.
Gejolak Global Bisa Menekan Ekonomi Daerah
Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) melihat bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran berpotensi memberikan tekanan serius terhadap perekonomian daerah.
Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengingatkan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Karena itu, situasi global seperti ini tidak boleh dianggap sepele.
Menurutnya, pemerintah daerah dan pelaku usaha harus sigap membaca situasi. Respons yang cepat dan terukur diperlukan agar dinamika geopolitik dunia tidak sampai mengganggu stabilitas ekonomi di Jawa Timur.
Ia menjelaskan bahwa dampak konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur bisa datang dari dua arah sekaligus. Pertama, melalui hubungan dagang langsung dengan negara-negara di kawasan tersebut. Kedua, dari efek domino akibat naiknya harga minyak dunia dan terganggunya sistem perdagangan internasional.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia

Salah satu faktor yang membuat konflik ini menjadi perhatian global adalah posisi Selat Hormuz. Jalur laut ini dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat tersebut. Ketika ketegangan meningkat di kawasan itu, risiko gangguan distribusi minyak juga ikut naik.
Jika situasi semakin panas, harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak. Tidak hanya itu, premi asuransi kapal yang melintas di kawasan tersebut juga bisa ikut naik. Dampaknya tentu akan merambat ke berbagai sektor, terutama transportasi dan distribusi barang.
Bagi Indonesia, termasuk Jawa Timur, kondisi ini bisa membuat biaya pengiriman barang dari luar negeri menjadi lebih mahal.
Ancaman Terbesar Ada di Sektor Pangan

Salah satu sektor yang paling berisiko terdampak Perang AS–Iran adalah pangan, terutama komoditas yang masih bergantung pada impor. Contoh paling nyata adalah kedelai.
Indonesia masih mengimpor sekitar 2,5 hingga 3 juta ton kedelai setiap tahun, dengan nilai impor dari Amerika Serikat mencapai lebih dari US$1 miliar. Kedelai ini menjadi bahan baku utama untuk produksi tempe dan tahu.
Masalahnya, Jawa Timur merupakan salah satu pusat produksi tempe dan tahu terbesar di Indonesia. Artinya, kebutuhan kedelai di daerah ini sangat besar.
Jika konflik global memicu kenaikan harga minyak dan ongkos logistik, maka biaya pendaratan kedelai di Indonesia juga ikut meningkat. Kondisi ini bisa semakin berat jika nilai tukar rupiah ikut melemah akibat sentimen pasar global.
Menurut Adik, pelaku UMKM tempe dan tahu sebenarnya sudah beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Ketika harga kedelai melonjak, mereka hanya punya beberapa pilihan sulit.
Mulai dari menaikkan harga jual, mengecilkan ukuran produk, atau bahkan menghentikan produksi untuk sementara waktu.
Dampak Berantai ke Harga Pangan
Kedelai bukan hanya penting untuk tempe dan tahu. Komoditas ini juga menjadi bahan utama bungkil kedelai, yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.
Jika harga kedelai naik, maka harga pakan ternak ikut terdongkrak. Dari situ, efeknya bisa merambat ke harga ayam dan telur di pasaran.
Jika kondisi Perang AS–Iran terjadi secara luas, maka inflasi pangan di tingkat daerah bisa ikut meningkat. Hal ini tentu akan memengaruhi daya beli masyarakat.
Kinerja Ekspor Jatim Masih Kuat, Tapi Tetap Waspada
Di sisi lain, sektor ekspor Jawa Timur saat ini sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang cukup solid.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri, Tommy Kaihatu, menyebut nilai ekspor Jawa Timur saat ini mencapai sekitar US$30 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari US$800 juta.
Sekitar 10 persen ekspor Jawa Timur juga dikirim ke kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, struktur ekspor Jawa Timur yang didominasi oleh produk manufaktur, agroindustri, dan industri pengolahan cukup sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan logistik.
Jika konflik Perang AS–Iran terus bereskalasi, biaya produksi industri bisa meningkat. Tarif pengiriman kontainer juga berpotensi naik, begitu pula dengan biaya asuransi ekspor.
Situasi ini bisa menggerus margin keuntungan para eksportir, terutama jika kontrak ekspor yang sudah disepakati menggunakan harga tetap (fixed price).
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga bisa membuat permintaan dari negara tujuan ekspor menurun.
Tantangan: Menjaga Daya Saing Ekspor
Menurut Kadin Jatim, tantangan ke depan bukan hanya soal kemungkinan turunnya volume ekspor. Yang tidak kalah penting adalah menjaga daya saing produk di tengah kenaikan biaya produksi dan fluktuasi nilai tukar.
Jika biaya energi, bahan baku, dan logistik terus meningkat, maka harga produk ekspor bisa menjadi kurang kompetitif di pasar global.
Karena itu, langkah antisipasi perlu segera dilakukan agar sektor ekspor tetap mampu bertahan.
Strategi Menghadapi Risiko Global
Untuk menghadapi potensi dampak konflik global ini, Kadin Jatim mendorong beberapa langkah strategis baik dalam jangka pendek maupun menengah.
Dalam 30 hari ke depan, koordinasi cepat antara pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri dinilai sangat penting. Salah satu langkah yang disarankan adalah memastikan ketersediaan buffer stock kedelai untuk kebutuhan minimal satu hingga dua bulan.
Transparansi data stok dan distribusi juga perlu diperkuat melalui koperasi produsen agar tidak terjadi spekulasi harga di pasar.
Selain itu, dukungan pembiayaan modal kerja bagi UMKM pangan juga perlu diperkuat agar mereka tetap bisa bertahan di tengah lonjakan harga bahan baku.
Bagi para eksportir, pendampingan dalam manajemen risiko nilai tukar dan biaya logistik juga menjadi hal yang penting.
Diversifikasi Jadi Kunci
Untuk jangka menengah, Kadin Jatim mendorong upaya diversifikasi sumber impor kedelai. Tujuannya agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara pemasok saja.
Di sisi lain, efisiensi energi di sektor industri juga perlu ditingkatkan agar biaya produksi bisa ditekan.
Perluasan pasar ekspor ke negara-negara yang tidak terdampak konflik juga menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas perdagangan.
Jawa Timur Harus Tetap Tangguh
Meski tantangan global semakin kompleks, Kadin Jatim menilai fundamental ekonomi Jawa Timur masih cukup kuat. Provinsi ini sudah berkali-kali menghadapi berbagai guncangan ekonomi, mulai dari krisis global hingga pandemi.
Namun, kecepatan respons dan koordinasi lintas sektor tetap menjadi kunci utama agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Adik menegaskan bahwa meski Indonesia tidak bisa mengendalikan dinamika geopolitik dunia, langkah-langkah untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah tetap bisa dilakukan.
Stabilitas pangan dan daya saing ekspor, menurutnya, harus menjadi prioritas bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Saatnya Naik Level di Pasar Global Bersama Go Export!
Jika kamu adalah pelaku usaha, eksportir pemula, atau UMKM yang ingin memperluas pasar hingga ke luar negeri, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai belajar dan mempersiapkan diri.
Go Export hadir sebagai platform edukasi ekspor yang membantu pelaku bisnis Indonesia memahami dunia perdagangan internasional secara lebih praktis dan terarah.
👉 Jangan sampai tertinggal!
Tingkatkan pengetahuan dan kesiapan bisnismu dengan mengikuti pelatihan ekspor, workshop, dan seminar eksklusif di Go Export sekarang juga.
Karena di tengah dinamika global, pelaku usaha yang siap belajar adalah mereka yang paling siap menang di pasar internasional.




